Kontan Online

REKOMENDASI SAHAM

Mencari tumpukan saham murah

Monday, 19 June 2017 | Hasyim Ashari

JAKARTA. Naluri alamiah seorang investor saham adalah, berupaya menempatkan dananya di saham yang memiliki valuasi rendah dan berkinerja bagus. Strategi tersebut tentunya demi memaksimalkan keuntungan.

Di saat pasar saham domestik bergerak dalam tren bullish, memang gampang-gampang susah membidik saham yang murah, tapi tidak murahan. Sebab, banyak saham yang harganya sudah meningkat signifikan.

Jumat (16/6) pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertengger di posisi 5.723,64. Artinya, indeks sudah naik 8,06% sejak awal tahun ini. Bahkan dua hari sebelumnya, IHSG menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni 5.792,90.

Melihat kondisi tersebut, tentu tidak sedikit saham yang harganya sudah tinggi. Jika ingin masuk dan belanja saham, maka para investor perlu mencermati valuasi sahamnya, misalnya dengan memperhatikan price earning ratio (PER) dan price book value (PBV).

Analis OSO Sekuritas Riska Afriani berpendapat, cara yang paling mudah untuk menentukan apakah harga suatu saham murah atau mahal adalah dengan melihat PER dan PBV. Semisal, apakah PBV saham yang dimaksud sudah di bawah 1 kali atau tidak. "Juga harus membandingkan dengan sub sektor yang sama dengan saham tersebut," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada menyebut, biasanya untuk menentukan murah atau tidaknya saham, perlu dibandingkan antar-emiten per sektor. Misalnya saham agribisnis, di mana PER ANJT setara 4,16 kali; SGRO 6,01 kali; SIMP 6,34 kali; LSIP 6,40 kali. "Apabila asumsinya rata-rata emiten yang sekelas PER-nya sekitar 6 kali, maka harga ANJT bisa dikatakan masih undervalued," kata dia.

Menurut Riska, PBV di bawah 1 kali mengindikasikan harga saham masih murah. Sebab, perhitungan book value dimaksudkan untuk menilai kekayaan perusahaan setelah utang dilunasi. Dengan begitu, PBV di bawah 1 kali berarti kelipatan harganya belum terlalu tinggi terhadap nilai suatu perusahaan.

Namun Riska mengingatkan, tidak serta merta setiap saham yang memiliki PBV di bawah 1 kali artinya murah. Investor juga harus memperhatikan kinerja emiten tersebut, apakah bagus atau tidak. Investor bisa melihat kinerja keuangan emiten selama lima tahun ke belakang.

Saat ini di BEI tercatat ada 189 perusahaan yang memiliki PBV di bawah 1 kali. Tentu dari jumlah tersebut, tidak semua emiten memiliki kinerja keuangan yang bagus. "Dari 189 perusahaan tersebut ada yang memang dikarenakan rugi, atau saham tersebut tidak likuid," kata Riska.


Melihat prospek

Analis NH Korindo Sekuritas Bima Setiaji menyarankan, selain melihat kinerja dan rasio valuasi emiten, sebaiknya investor harus melihat prospek dari perusahaan tersebut, apakah bisa bertahan selama lima tahun ke depan atau tidak. Hal ini tentunya untuk memaksimalkan potensi kenaikan harga sahamnya di pasar.

Semakin bagus prospek emiten tersebut, maka semakin tinggi pula estimasi laba nya di masa mendatang. "Dengan begitu rasio valuasi seperti PER akan berpotensi mengecil, sehingga membuat undervalued," ujar dia.

Bima mencatat, ada beberapa emiten yang memiliki kriteria-kriteria saham undervalued dan layak dikoleksi. Saham-saham tersebut antara lain BEST dengan PER saat ini 7,6 kali dan PBV 0,90 kali. Dia merekomendasikan buy BEST dengan target harga Rp 450 per saham. Saham BNLI dengan PBV 0,6 kali dan PER 10,62 kali, juga mendapat rekomendasi buy dengan target harga Rp 990.

Riska juga memiliki catatan untuk saham-saham undervalued yang layak dibeli. Misalnya LPCK, SOCI, MDLN, PNLF, BBKP, ERAA, BTPN, BNLI, ANTM dan BNGA. Dia merekomendasikan buy untuk ANTM dan BTPN dengan target masing-masing Rp 950 dan Rp 3.050 per saham.

Sedangkan Reza berpendapat, INDY termasuk dalam kriteria saham undervalued, dengan PBV masih 0,42 kali dan PER 3,64 kali. Dia berharap, target INDY mengejar pendapatan lebih dari US$ 1 miliar pada tahun ini bisa tercapai. Berikut ini ulasan dan rekomendasi analis terhadap empat saham yang dianggap masih murah.

Reporter: Hasyim Ashari
Editor: Yudho Winarto
loading...